Minggu, 22 November 2015

Makalah Pengendalian Manajerial



BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sistem pengendalian manajemen harus didukung dengan struktur organisasi yang baik. 
Struktur organisasi termanifestasi dalam bentuk struktur pusat pertanggungjawaban
 (Responsibility centers). Pusat pertanggungjawaban adalah unit organisasi yang dipimpin
 oleh manajer yang bertanggungjawab terhadap aktivitas pusat pertanggungjawaban yang
 dipimpinnya. Suatu organisasi merupakan kumpulan dari berbagai pusat pertanggungjawaban. 
Adapun Tujuan dibuatnya pusat pertanggungjawaban tersebut adalah:
1. Sebagai basis perencanaan, pengendalian, dan penilai kinerja manajer dan unit
     organisasi yang dipimpinnya.
2. Untuk memudahkan mencapai tujuan organisasi.
3. Memfasilitasi terbentuknya goal congruence.
4. Mendelegasikan tugas dan wewenang ke unit-unit yang memiliki kompetensi sehingga
    mengurangi beban tugas manajer pusat.
5. Mendorong kreativitas dan daya inovasi bawahan.
6. Sebagai alat untuk melaksanakan strategi organisasi secara efektif dan efisien.
7. Sebagai alat pengendalian anggaran.
Pusat pertanggungjawaban merupakan suatu unit organisasi yang dipimpin oleh seorang
 manajer yang bertanggungjawab. Penilaian kinerja manajer sangat penting karena dengan
 adanya penilaian kinerja dapat diketahui apakah manajer pusat pertanggungjawaban tersebut melaksanakan wewenang dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya.
Tanggungjawab manajer pusat pertanggungjawaban adalah untuk menciptakan hubungan
 yang optimal antara sumber daya input yang digunakan dengan output yang dihasilkan
 dikaitkan dengan target kinerja. Input diukur dengan jumlah sumber daya yang digunakan
 sedangkan output diukur dengan jumlah produk/output yang dihasilkan
Oleh sebab itu, kami mencoba menyusun sebuah makalah yang berkaitan dengan pusat-pusat
 pertanggungjawaban tersebut. Selain itu, penyusunan makalah ini merupakan bagian dari
 pemenuhan tugas mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen.


1.2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana siklus dalam sistem pengendalian birokrasi?
b. Pendekatan apa saja yang digunakan dalam pengendalian birokrasi?
c. Bagaimana audit manajemen dalam sistem pengendalian birokrasi?
d. Bagaimana pengendalian anggaran dalam sistem pengendalian birokrasi?
e. Bagaimana pengendalian keuangan dalam sistem pengendalian birokrasi?
f. Apa saja kelemahan dalam sistem pengendalian birokrasi?
g. Bagaimana proses merancang sistem pengendalian yang efektif?
h. Bagaimana pengendalian pasar dan kelompok dalam sistem pengendalian birokrasi?

1.3. Tujuan
a. Untuk memaparkan siklus dalam sistem pengendalian birokrasi.
b. Untuk memaparkan pendekatan yang digunakan dalam pengendalian birokrasi.
c. Untuk memaparkan audit manajemen dalam sistem pengendalian birokrasi.
d. Untuk memaparkan pengendalian anggaran dalam sistem pengendalian birokrasi.
e. Untuk memaparkan pengendalian keuangan dalam sistem pengendalian birokrasi.
f. Untuk memaparkan kelemahan dalam sistem pengendalian birokrasi.
g. Untuk memaparkan proses merancang sistem pengendalian yang efektif.
h. Untuk memaparkan pengendalian pasar dan kelompok dalam sistem pengendalian birokrasi.

1.4. Manfaat
Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a) Bagi Penulis
1. Penulis dapat menggali ilmu dengan adanya pembahasan makalah ini.
2. Penulis dapat menambah wawasan tentang manajemen.
3. Penulis lebih mengetahui, memahami dan mendalami tentang Pengendalian 
    Manajerial.
b) Bagi Pembaca
1. Pembaca dapat menambah wawasan mengenai manajemen dengan adanya
     pembahasan makalah ini.
2. Pembaca dapat lebih mengetahui, memahami dan mendalami tentang Pengendalian
     Manajerial.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengendalian Birokrasi
Pengendalian (control) adalah salah satu kekuatan fundamental yang menjaga organisasi
 bersama-sama dan menuju ke arah yang benar. Bisa didefinisikan sebagai proses yang
 mengarahkan aktivitas individu kearah pencapaian tujuan organisasi. Konsep pengendalian
 berkaitan dengan seberapa efektif manajer memastikan bahwa kegiatan berjalan sesuai rencana. Sistem pengendalian yang tidak efektif menghasilkan permasalahan yang berkisar disekitar pencurian yang dilakukan oleh karyawan.
Pengendalian juga disebut sebagai salah satu manajemen kembar siam. Kembaran lainnya
 adalah perencanaan. Perencanaan menjabarkan kerangka kerja untuk masa depan, perencanaan
 merupakan penyedia patokan (blue print) bagi pengendalian. Perencanaan yang efektif dapat
 memfasilitasi pengendalian, dan pengendalian dapat memfasilitasi perencanaan.
Manajer dapat menerapkan tiga strategi yang luas untuk mencapai pengendalian organisasi,
 yaitu :
1. Pengendalian Birokrasi (bureaucratic control), yaitu penggunaan aturan, peraturan, dan
  wewenang formal untuk menjadi pedoman kinerja. Pengendalian Birokrasi terdiri dari
  beberapa item, yaitu : anggaran, laporan statistik, dan penilaian kinerja untuk mengatur
   perilaku dan hasil.
2. Pengendalian Pasar (market control), yaitu pengendalian yang didasarkan pada
    penggunaan mekanisme penentuan harga untuk mengatur aktivitas organisasi.
3. Pengendalian Kelompok (clan control),  yaitu pengendalian yang berdasarkan pada norma,
    nilai-nilai, tujuan-tujuan bersama, dan kepercayaan diantara anggota kelompok.
Sistem pengendalian secara khas memiliki empat langkah utama :
1. Menetapkan standar kinerja. 
2. Mengukur kinerja.
3. Membandingkan kinerja dengan standar dan menentukan penyimpangan.
4. Mengambil tindakan untuk memperbaiki masalah dan memperkuat keberhasilan.

2.2. Pendekatan Pengendalian Birokrasi
Terdapat tiga pendekatan dalam pengendalian birokrasi yaitu:
1. Pengendalian Feedforward
Pengendalian Feedforward adalah pengendalian yang berorientasi pada masa depan. Pada
 intinya Manager dapat melakukan pengendalian untuk mencegah masalah sebelum 
 masalah itu terjadi.
2. Pengendalian Bersamaan (concurrent control)
Pengendalian bersamaan terjadi ketika perencanaan sedang dilakukan, yang terdiri atas
 pengarahan, monitor, dan aktivitas mengubah balik ketika proses tersebut ditampilkan. 
 Pengendalian bersamaan sendiri adalah inti dari beberapa sistem pengendalian.
3. Pengendalian Umpan Balik (feedback control)
Pengendalian Umpan Balik adalah pengendalian yang focus terhadao penggunaan
 informasinformasi berkaitan hasil awal untuk memperbaiki penyimpangan dari standar
 yang dapat diterima.Pengaturan waktu adalah aspek penting dalam pengendalian umpan
 balik. Terdapat suatu aplikasi yang sangat kuat dan kokoh dari pengendalian umpan balik
 yang disebut Six Sigma.

2.3. Audit Manajemen
Audit manajemen merupakan suatu evaluasi tentang keefektifandan efisiensi berbagai sistem dalam suatu organisasi, dari program tanggung jawab sosial sampai dengan pengendalian akuntansi. Terdapat dua macam tipe audit yaitu:
1. Audit Eksternal (external audit)
Yaitu evaluasi tentang keefektifan dan mengefisienskan berbagai sistem yang ada dalam suatu organisasi.
Audit eksternal terjadi ketika suatu organisasi ingin mengevaluasi organisasi lain. Berikut jenis dari analisis ini:
a. Menyelidiki organisasi lain untuk kemungkinan akuisisi
b. Menentukan tingkat kelayakan  suatu perusahaan pemasok, atau
c. Menemukan keunggulan atau kekuarangan atau lebih baik  mengeksploitasi keunggulan kompetitif  dari organisasi lain
2. Audt Internal (internal audit)
Yaitu Penilaian periodik tentang perencanaan yang dimiliki oleh organisasi, proses
 mengatur, memimpin, dan mengendalikan.
Audit internal digunakan untuk menilai apa yang dilakukan perusahaan untuk dirinya sendiri dan apa yang telah dilakukan untuk konsumen.
Diantara praktik-praktik yang tidak diinginkan yang paling umum ditemukan adalah:
a. Kinerja yang tidak perlu
b. Duplikasi pekerjaan
c. Pengendalian persediaan yang buruk
d. Penggunaan peralatan yang tidak ekonomis
e. Prosedur yang lebih mahal dari yang diperlukan dan,
f. Sumber daya yang terbuang

2.4. Pengendalian Anggaran
Pengendalian anggaran adalah salah satu metode yang paling dikenal secara luas dan umum
 digunakan dalam pengendalian manajerial. Pengendalian anggaran adalah proses
 menginvestigasi apa yang telah dilakukan dan membandingkan hasil dengan data anggaran 
yang sesuai untuk memeriksa pencapaian atau memperbaiki perbedaan. Pengendalian anggaran
 biasanya disebut penganggaran (budgeting). 
Terdapat beberapa jenis anggaran, diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Anggaran penjualan, yaitu data untuk anggaran penjualan terdiri dari perkiraan penjualan
    per bulan, wilayah penjualan, dan produk.
2. Anggaran produksi, yaitu dinyatakan dalam satuan fisik.
3. Anggaran biaya, yaitu digunakan untuk bidang organisasi yang mengeluarkan biaya tapi
    tidak ada pendapatan.
4. Anggaran kas, yaitu anggaran yang yang perlu dipersiapkan setelah semua perkiraan
     anggaran lain selesai.
5. Anggaran modal, yaitu digunakan untuk biaya aktiva tetap seperti gedung dan peralatan.
6. Anggaran induk, yaitu mencakup semua kegiatan utama perusahaan. Anggaran ini
   menyatukan dan mengoordinasikan semua kegiatan anggaran lainnya dan dapat dianggap
    sebagai “anggaran dari semua anggaran (budget of budget)”.

2.5. Pengendalian Keuangan
Pengendalian keuangan dalam bisnis umumnya menggunakan laporan keuangan sebagai
 pengendalian. Ada 2 laporan keuangan yang membantu pengendalian kinerja organisasi secara
 keseluruhan yaitu neraca dan laporan laba rugi.
1. Neraca
Neraca (balance sheet) merupakan laporan yang menunjukkan gambar keuangan
 perusahaan pada wakktu tertentu dan terdiri dari item-item yaitu aset, liabilitas, dan
 ekuitas pemegang saham. Aset (assets) adalah nilai dari berbagai item yang dimiliki
 korporasi. Liabilitas (liabilities) adalah jumlah korporasi berutang ke berbagai kreditor.
 Ekuitas pemegang saham 
(stock-holders’ equity) adalah jumlah yang diperoleh pemilik korporasi.
Meringkas item-item yang ada pada neraca selama periode waktu yang panjang
 mengungkap tren penting dan memberikan manajer wawasan lebih lanjut terhadap
 kinerja secara keseluruhan dan daerah di mana penyesuaian perlu dibuat.
2. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi (profit and loss statement) adalah laporan keuangan yang terdiri dari
 item-item tentang pendapatan dan beban operasi perusahaan. Beberapa manajer menyusun
 laporan laba rugi sementara dan menggunakannya sebagai tujuan. Kemudian kinerja
diukurkembaliberdasarkantujuantujuan atau standar. Dari laporan komparatif tersebut,
 manajer dapat mengidentifikasi area masalah dan memperbaikinya.
Pengendalian berdasarkan laba dan rugi paling umum digunakan untuk seluruh perusahaan
 dan dalam kasus sebuah perusahaan diversifikasi divisinya. Namun, jika pengendaian
 dilakukan oleh departemen, seperti dalam sebuah organisasi yang terdesentralisasi,
 di mana manajer departemen memiliki pengendalian atas pendapatan dan beban,
 laporan laba dan rugi yang digunakan untuk setiap departemen. Setiap output departemen
 diukur, dan biaya, termasuk biaya overhead, dibebankan pada operasi masing-masing departemen. Laba bersih yang diharapkan adalah standar untuk mengukur kinerja
 suatu departemen.
Sebuah pendekatan yang efektif untuk memeriksa kinerja keseluruhan perusahaan adalah 
dengan menggunakan rasio keuangan utama. Rasio membantu menunjukkan kemungkinan
 kekuatan dan kelemahan dalam operasi perusahaan. Rasio utama dihitung dari item-item
 yang dipilih dari laporan laba rugi dan neraca.
Terdapat tiga kategori rasio keuangan, yaitu:
1. Rasio Likuiditas, menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar utang jangka
 pendek. Rasio likuiditas yang paling umum adalah aktiva lancar terhadap liabilitas lancar,
 yang disebut rasio lancar (current ratio) atau rasio modal kerja bersih. Rasio ini menunjukkan
 sejauh mana aktiva lancar dapat menurun dan masih akan cukup untuk membayar liabilitas
 lancar.
2. Rasio solvabilitas, menunjukkan jumlah relative dari dana bisnis yang disediakan oleh
 kreditur dan pemegang saham. Sebuah contoh penting adalah rasio utang-ekuitas
(debtequity ratio), yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi liabilitas
 keuangan jangka panjang.
3. Rasio profitabilitas, menunjukkan kemampuan manajemen untuk menghasilkan keuangan
 finansial dari penjualan atau investasi. Sebagai contoh, pengembalian pada investasi
 (return on investment – ROI) adalah rasio laba terhadap modal yang digunakan, atau tingkat
 pengembalian modal. Rasio ini memungkinkan manajer dan pemegang saham untuk menilai
 seberapa baik perusahaan melakukan tugasnya dibandingkan dengan investasi lain.
Meskipun rasio menyediakan standar kinerja yang baik dan merupakan indicator apa yang
 telah terjadi, ketergantungan eksklusif pada rasio keuangan dapat memiliki konsekuensi
 negatif. Karena rasio biasanya disajikan dalam horizon waktu terkompresi, mereka sering
 menyebabkan miopi manajemen (management myopia) – manajer yang fokus pada laba dan
 pendapatan jangka pendek dan mengorbankan beban liabilitas strategis jangka panjangmereka.
Hasil negatif kedua dari rasio adalah bahwa rasio membuang posisi pertimbangan sekunder
 penting lainnya. Penelitian dan pengembangan, pengembangan manajemen, praktik sumber
 daya manusia yang progresif, dan pertimbangan lainnya yang mungkin menerima perhatian
 yang tidak cukup. Oleh karena itu, penggunaan rasio harus dilengkapi dengan tindakan
 pengendalian lainnya.

2.6. Kelemahan Pengendalian Birokrasi
Dalam faktanya, sistem pengendalian dapat menyebabkan disfungsi perilaku. Sebuah sistem
 pengendalia tidak bisa efektif tanpa mempertimbangkan bagaimana orang akan bereaksi terhadap
 sistem tersebut. Untuk pengendalian yang efektif berkaitan dengan perilaku karyawan, manajer
 harus mempertimbangkan tiga jenis respons potensial untuk pengendalian: perilaku birokrasi
 yang kaku, perilaku taktis, dan resistance.
1. Perilaku Birokrasi yang Kaku
   Seringkali orang bertindak dengan cara yang akan membantu mereka terlihat baik pada pengukuran
 sistem pengendalian. Kecenderungan ini dapat berguna karena kecenderungan ini memfokuskan
 orang-orang pada manajemen perilaku yang dibutuhkan. Akan tetapi, hal itu bisa mengakibatkan
 kekakuan, perilaku yang tidak fleksibel yang diarahkan “hanya” untuk melakukan apa yang
 dibutuhkan oleh sistem.
Perilaku birokrasi yang kaku terjadi ketika sistem pengendalian meminta karyawan untuk tetap
 keluar dari kesulitan dengan mengikuti aturan. Sayangnya, sistem tersebut sering mengakibatkan
 layanan pelanggan yang tidak baik dan membuat seluruh organisasi lambat untuk bertindak.
Beberapa manajer bahkan tidak akan menggunakan istilah “pengendalian birokrasi” karena
 konotasinya berpotensi negatif. Hal itu sangat disayangkan karena sistem pengendalian 
itu sendiri tidak merupakan masalah. Masalah terjadi ketika sistem tidak lagi dipandangan sebagai
 alat untuk menjalankan bisnis melainkan sebagai aturan untuk mendikte perilaku yang kaku.
2. Perilaku Taktis
Sistem pengendalian akan menjadi tidak efektif jika karyawan yang terlibat dalam taktik yang 
ditujukan untuk “mengalahkan sistem”. Jenis yang paling umum dari perilaku taktik adalah
 memanipulasi informasi atau melaporkan data kinerja palsu. Orang mungkin menciptakan dua jenis
 data yang tidak valid: tentang apa yang telah dilakukan dan apa yang dapat dilakukan. Laporan palsu
 tentang masa lalu kurang umum karena lebih mudah untuk mengenali seseorang yang misreports apa
 yang terjadi dari seseorang yang memberikan prediksi keliru atau perkiraan apa yang mungkin terjadi.
 Namun, para manajer kadang-kadang mengubah sistem akuntansi mereka untuk “melicinkan” angka. Juga, orang mungkin sengaja
 memberikan informasi yang salah ke dalam sistem informasi manajemen untuk menutupi kesalahan
 atau kinerja yang buruk.
Lebih umum, orang memalsukan perdiksi mereka atau permintaan untuk masa depan. Ketika
 diminta untuk memberikan estimasi anggaran, karyawa biasanya meminta jumlah yang lebih
 besar dari yang mereka butuhkan. Di sisi lain, mereka kadang-kadang mengirimkan estimasi rendah yang tidak realistis ketika mereka percaya estimasi rendah akan 
membantu mereka mendapatkan anggaran atau proyek yang disetujui. Sesi pengaturan anggaran
 dapat menjadi kapal tunda-dari-perang antara bawahan berusaha untuk mendapatkan kelonggaran dalam anggaran dan atasan
 berusaha untuk meminimalkan kekenduran. Taktik serupa yang diperlihatkan ketika manajer
 menegosiasikan standar kinerja rendan yang tidak realistis, sehingga bawahan akan memiliki
 sedikit kesulitan pertemuan; ketika penjual memproyeksikan perkiraan rendah, sehingga mereka
 akan terlihat baik dengan melebihi mereka; dan ketika para pekerja memperlambat laju kerja
 sementara waktu belajar menetapkan standar kecepatan kerja.
3. Resistensi terhadap Pengendalian
Sering kali orang sangat menolak sistem pengendalian. Mereka melakukan untuk beberapa alasan.
 Pertama, sistem pengendalian komprehensif meningkatkan akurasi sistem pengendalian yang dapat
 mengubah data kinerja dan membuat karyawan lebih bertanggung jawab atas kinerja mereka. Sistem
 pengendalian mengungkap kesalahan, mengancam pekerjaan keahlian seseorang dan kekuatan struktur,
 keamanan dan status, dan otonomi penurunan karyawan.
Kedua, sistem pengendalian dapat mengubah keahlian dan kekuatan struktur. Sebagai contoh,
 sistem informasi manajemen dapat membuat biaya, pembelian, dan keputusan produksi yang
 dibuat sebelumnya oleh para manajer dengan lebih cepat. Orang-orang mungkin takut kehilangan
 keahlian, kekuasaan, dan otoritas pengambilan keputusan sebagai hasilnya.
Ketiga, sistem pengendalian dapat mengubah struktur sosial dari suatu organisasi. Mereka dapat
 menciptakan kompetisi dan mengganggu kelompok sosial dan persahabatan. Orang mungkin
 berhenti melawan orang-orang dengan siapa mereka bersaing sebelumnya karena memiliki
 kenyamanan, hubungan kerjasama. Karena kebuutuhan sosial masyarakat sangat penting, mereka 
akan menolak sistem pengendalian sosial yang mengurangi kepuasan kebutuhan.
Keempat, sistem pengendalian dapat dilihat sebagai pelanggaran privasi, menyebabkan tuntutan
 hukum, dan menyebabkan moral yang rendah.

2.7. Merancang Sistem Pengendalian Efektif
Sistem pengendalian efektif memaksimalkan potensi bermanfaat dan meminimallkan perilaku
 disfungsi. Untuk mencapai hal ini, manajemen perlu merancang sistem pengendalian yang:
1. Menetapkan standar kinerja yang valid
Sebuah sistem pengendalian kerja yang efektif harus berdasarkan pada standar kinerja yang
 valid dan akurat. Standar yang paling efektif cenderung dinyatakan lebih objektif daripada
 subjektif. Tindakan tidak harus mampu menjadi mudah disabotase atatu dialsukan. Sistem
 harus menggabungkan semua kinerja penting. Akan tetapi manajemen juga harus 
mempertahankan terhadap risiko masalah  seperti terlalu banyak tindakan yang yang
 menciptakan pengendalian yang berlebihan sehingga terjadi perlawanan karyawan. 
Michael Hammer seorang konsultan bisnis merangkum poin – poin dalam hal apa
 sajakah yang ia sebut “dosa yang mematikan” pengukuran kinerja untuk menghindari :
a. Kesombongan
Menggunakan langkah – langkah yang pasti untuk membuat manajer dan organisasi terlihat baik.
b. Provinsialisme
Langkah untuk membatasi tanggung jawab fungsional atau deprtemen daripada
 tujuan organisasi secara keseluruhan.
c. Narsisme 
Pengukuran dari karyawan, manajer, atau tempat perusahaan daripada pelanggan.
d. Kemalasan
Tidak mengeluarkan upaya untuk menganalisis apa yang penting untuk diukur.
e. Kepicikan
Pengukuran hanya salah satu komponen dan apa yang mempengaruhi kinerja bisnis.
f. Kebodohan
Gagal untuk mempertimbangkan cara standar akan mempengaruhi perilaku menusia
 di dunia nyata dan kinerja perusahaan.
g. Kesembronoan 
Membuat alasan untuk kinerja yang buruk daripada mengambil standar kinerja yang
 serius.
Manajer harus mengukur kinerja terhadap standar – standar ini dengan tepat, akurat, 
dan praktis, membuat individu yang bertanggung jawab atas prestasi mereka dan 
keberhasilan yang bermanfaat.
1. Memberikan informasi yang memadai
Manajer harus mamapu menyampaikan pada karyawan mengenai pentingnya dan
 sifat dari system engendalian. Para karyawan juga harus mampu menerima umpan
 balik atas kinerja mereka. Tanggapan memotivasi orang dan memberikan informasi
 yang memungkinkan mereka untuk memperbaiki penyimpangan mereka sendiri 
dari standar kinerja.
2. Memastikan aspeksabilitas untuk karyawan 
Karyawan cenderung untuk menolak sistem pengendalian dan menunjukkan
 perilaku disfungsional jika mereke menerima sistem. Meraka lebih cenderung
 untuk menerima sistem yang memiliki standar kinerja yang berguna tetepi tidak
 terlalu mengendalikan. Karyawan juga lebih menerima sistem jika mereka percaya
 standar tersebut mungkin untuk dicapai. Salah satu cara yang terbaik untuk
 menetapkan standar yang wajar dan dapat dierima karyawan yaitu dengan
 partisipasi dalam pengambilan keputusan karena akan memungkinkan karyawan
 untuk berkolaborasi dalam pengambilan keputusan system pengendalian. Sehingga
 enderung memengaruhi pekerjaan mereka secara langsung dan akan mengatsi
 penolakan dan terjadi penerimaan sistem.
3. Menjaga komunikasi terbuka 
Ketika terjadi penyimpangan, penting bagi nkaryawan merasa mampu untuk
 melaporkan penyimpangan, sehingga masalah dapat diatasi. Jika manajer mamapu
 mencipatakan lingkungan dengan keterbukaan dan kejujuran, di mana kayawan
 makan meraa nyaman berbagi informasi, bahkan informasi negatif dan dihargai
 untuk melakukannya secara tepat waktu, maka sistem pengendalian jauh lebih
 mungkin untuk bekerja secar efektif.
Manajer terkadang memerlukan karyawan yang disiplin untuk memenuhi
 standar penting. Biasanya pendekatan yang paling efektif adalah disiplin
 progresif. Dalam pendekatan ini, standar jelas ditetapkan, tetapi kegagalan
 untuk memenuhi mereka dibahs dalam proses progresif atau selangkah demi
 selangkah.
4. Menggunakan beberapa pendekatan 
Sistem pengendalian umumnya harus mencakup keuangan dan target kinerja
 nonkeuangan dan menggabungkan aspek pendahuluan, bersamaan, dan 
pengendalian upan balik. Dalam beberapa tahun terakhir banyak perusahaan
 telah mengkobinasikan target untuk manajer  menjadi balanced scorecard, yaitu
 sistem pengendalian yang mengkombinasikan empat langkah pengukurankinerja
 yaitu keuangan, kepuasan pelanggan, proses bisnis (kualitas dan efisiensi), serta
 pembelajaran dan pertumbuhan.
Pengendalian yang efektif juga akan memerlukan manajer dan organisai untuk
 menggunakan banyak teknik lain dan praktik manajemen yang baik.

2.8. Pengendalian Pasar dan Pengendalian Kelompok
Pengendalian adalah proses memantau kegiatan untuk memastikan bahwa kegiatan tersebut diselesaikan seperti yang telah direncanakan dan proses mengkoreksi setiap penyimpangan yang berarti. Dasar pengendalian dapat dilihat dari fungsi pengawasan. Fungsi ini diperlukan untuk menjamin telaksananya berbagai kegiatan dalam rangka pencapaian tujuan organisasi, sesuai dengan apa yang telah direncanakan.
Dengan memahami pengawasan sebagai salah satu fungsi manajemen akan memberikan kejelasan bahwa pengawasan diperlukan terutama untuk menjawab pertanyaan apakah kegiatan-kegiatan yang sedang berjalan dalam organisasi sudah sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Dan apabila terdapat penyimpangan perlulah selanjutnya diadakan perbaikan atau corrective, dan kesemuanya ini akan juga menjadi umpan balik bagi perencanaan selanjutnya.
Tipe-tipe pendekatan perancangan pengendalian diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Pengendalian Pasar
Adalah Pendekatan pengendalian yang menekankan penggunaan mekanisme pasar ekternal untuk mendapatkan standard yang digunakan dalam sistem pengendalian. Langkah-langkah dalam pengendalian pasar, yaitu:
a. Menentukan apa yang dikendalikan
b. Menetapkan standar 
c. Mengukur kinerja
d. Membandingkan kinerja dengan standar
e. Menentukan alasan penyimpangan
f. Melakukan tindakan koreksi
Terdapat 3 jenis pengendalian yang dapat dilakukan dalam pemasaran sebagai feedback. Ketiga jenis tersebut adalah:
· Pengendalian rencana tahunan adalah tugas untuk memastikan perusahaan telah mencapai sasaran penjualan, laba dan sasaran lainnya dimana dilakukan dengan cara menyatakan sasaran yang terdefinisi, ukuran kinerja, menentukan penyebab kegagalan, dan memilih tindakan perbaikan antara sasaran dan kinerja.
· Pengendalian profitabilitas adalah tugas pengukuran profitabilitas aktual dari berbagai produk, kelompok pelanggan, saluran distribusi, dan besarnya pesanan,
      sehingga diperlukan analisa profitabilitas pemasaran.
· Pengendalian strategis merupakan tugas untuk mengevaluasi apakah strategi pemasaran sesuai dengan kondisi pasar saat ini, sehingga diperlukan suatu alat 
      yaitu audit pemasaran.
2. Pengendalian Klan (kelompok)
Adalah suatu pendekatan terhadap perancangansistem-sistem pengendalian dimana perilaku-perilaku karyawan diatur dengan nilai-nilai bersama, norma-norma dan tradisi serta
 upacara/seremonial organisasi tersebut.
Pengendalian kelompok dibedakan menjadi 2, yaitu:
a. Pengendalian Kelompok yang Informal Primer
Kelompok primer adalah kelompok yang kecil, akrab, dan besifat informal, seperti keluarga, kelompok bermain, dan sebagainya. Pengendalian dalam kelompok primer terjadi secara informal, spontan, dan tanpa direncanakan. Para anggota kelompok bereaksi terhadap perilaku sesamanya. Bilamana seorang anggota menyakiti atau menyinggung perasaan para anggota lainnya, maka mereka itu mungkin saja akan menunjukkan perasaan ketidaksenangannya dengan cara mengejek, menertawai, mengeritik, atau bahkan menyisihkan anggota tersebut dari pergaulan. Bilaman perilaku seorang anggota menyenangkan, maka imbalan yang biasa diterimanya ialah
 “perasaan diterima” yang menyenangkan.  
b. Pengendalian Kelompok Sekunder
Kelompok sekunder pada umumnya lebih besar, lebih impersonal, dan mempunyai tujuan yang khusus. Kita tidak menggunakan kelompok semacam itu untuk memenuhi kebutuhan kita akan hubungan yang intim dan manusiawi, tetapi untuk membantu kita dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Jika kelompok sekunder tidak dapat memenuhi kebutuhan kita, maka pada umumnya kita dapat saja menarik diri tanpa kesedihan yang mendalam, karena keterlibatan emosi kita terhadapnya tidaklah mendalam. Biasanya kelompok sekunder merupakan lembaga pengendali yang lebih lemah daripada 
kelompok primer.
Kelompok sekunder masih merupakan alat pengendali yang efektif. Beberapa bentuk pengendalian informal masih berperan dalam kelompok sekunder. Tidak ada seorang pun yang ingin tampak ganjil pada pertemuan serikat kerja, perkumpulan rohani di Gereja, atau pada acara makan malam kamar dagang, Pengendalian informal seperti ejekan, tawa, perguncingan (gosip), dan pengucilan berperan dalam lingkungan kelompok sekunder, namun pada umumnya pengaruhnya sudah berkurang. Pengendalian yang lebih formal merupakan ciri-ciri yang dimiliki oleh kelompok sekunder, misalnya, peraturan resmi dan tata cara yang distandardisasi, propaganda, hubungan masyarakat, rekayasa manusia (hukum engineering), kenaikan golongan (pangkat) dan pemberian gelar, imbalan dan hadiah, sangsi dan hukuman formal, dan sebagainya.
Untuk memepertahankan pengendalian sekaligus pemberdayaan karyawan
 perusahaan harus:
1) menggunakan tim panduan diri
2) memungkinkan pepengambilan keputusan pada sumber masalah
3) membangun kepercayaan dan saling menghormati
4) pengendalian dasar pada kerangka pembimbing norma
5) menggunakan sistem insentif yang mendorong kerja sama tim




























BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pengendalian manajemen adalah proses dimana manajer mempengaruhi anggotanya untuk
 melaksanakan strategi organisasi. Sistem Pengendalian Manajemen merupakan perangkat
 struktur komunikasi yang saling berhubungan yang memudahkan pemrosesan informasi dengan
 maksud membantu manajer mengkoordinasikan bagian-bagian yang ada dan pencapaian tujuan organisasi secara terus menerus. Sistem
 pengendalian manajemen dikategorikan sebagai bagian dari pengetahuan perilaku terapan
 (applied behavioral science). Pada dasarnya, sistem ini berisi tuntutan kepada kita mengenai
 cara menjalankan dan mengendalikan perusahaan / organisasi yang “dianggap baik” berdasarkan 
asumsi-asumsi tertentu. Masing
-masing perusahaan memiliki kompleksitas berbeda dalam pengendalian manajemen, makin besar
 skala perusahaan akan semakin kompleks.
Tujuan dari sistem ini adalah untuk meningkatkan 
keputusan-keputusan kolektif dalam organisasi. Untuk memahami sebuah sistem dibutuhkan suatu
 pengetahuan tentang lingkungan dimana sistem itu berada. Dua unsur penting dalam sistem
 pengendalian manajemen adalah lingkungan pengendalian dan proses pengendalian.

Saran
Membahas mengenai faktor hakikat sistem pengendalian manajemen memamg tidak akan cukup
 apabila hanya melalui makalah ini karena pembahasan ini akan meluas apabila ditambah dengan
 kajian materi atau kasus yang saat ini sudah meluas di telinga masyarakat pada umumnya. 
Semakin kita dalami ilmu tersebut maka semakin banyaklah pengetahuan mengenai pembahasan
 ini.
Untuk membahas setiap bab nya pun tentu sungguh panjang lebar. Akan tetapi, kami hanya
 bisa membagikan sedikit pengetahuan kami mengenaisistem pengendalian manajemen.
Namun kami berharap, walaupun pembahasan ini hanya beberapa lembar halaman saja,
 semoga bahasan ini menjadi suatu yang bermanfaat kami sebagai pemakalah menyadari bahwa
 dalam pembuatan makalah  ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu diperlukan kritik dan
 saran.



DAFTAR PUSTAKA
Bateman, Thomas S., Scott A. Snell. Tanpa Tahun. Manajemen: Kepemimpinan dan Kerja Sama dalam Dunia yang Kompetitif (edisi 10-jilid 2). Terjemahan Willy Abdillah. 2014. Jakarta: Salemba Empat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar